Showing posts with label Book. Show all posts
Showing posts with label Book. Show all posts

Oct 17, 2018

Sejak kecil dulu, saya tumbuh sebagai anak yang suka banget sama buku. Entah kenapa, pokoknya kalau lihat buku, ada perasaan tertarik dan bikin saya happy banget. Haha.

Saya sendiri sebenarnya bukan tipe yang kutu buku banget, sih, tapi saya suka baca dan saya suka koleksi buku. Don't really know which side I am, but I just know that I love books. That's it. Kalau ingat masa kecil saya dulu, saya selalu kegirangan setiap kali orang tua bilang mau mengajak saya pergi ke toko buku. Lucunya, perasaan ini tidak berkurang bahkan setelah saya beranjak dewasa. Saya masih suka ke toko buku, entah hanya untuk sekedar jalan-jalan atau memang untuk hunting buku.

Belakangan, saya mencoba untuk eksplorasi ke tempat-tempat baru, masih di tanah kelahiran saya sendiri: Bali. Saya merasa beruntung tinggal dan hidup di Bali karena setiap sudutnya memberikan kesan yang dalam buat siapa saja yang pernah singgah. Setiap tempat yang saya kunjungi, selalu memberikan vibe dan ambience yang membuat saya ingin kembali lagi. Saya sendiri jatuh cinta pada Sanur. Entah pada pantai-pantai cantiknya, entah pada suasana cafe di saat brunch, dan pada deretan-deretan art shop yang artsy; semua hal itu selalu bikin saya jatuh cinta dan ingin selalu kembali ke sana.

Di Sanur juga, saya menemui satu tempat hunting buku yang menarik. Sebuah toko buku bekas kecil bernama Malia Ex Tailor and Alami Used Book Warung. Tidak sulit menemukannya, letaknya dekat sekali dengan Pasar Sindhu.



Tempat ini sudah cukup lama menarik perhatian saya karena, pertama, saya selalu tertarik pada toko buku; kedua, karena jarang buat saya bisa ketemu tempat yang menjual buku bekas asing; dan ketiga, meskipun tempatnya mungil, deretan buku yang terlihat dari jendela kacanya membuat tempat ini jadi terlihat outstanding di mata saya. Karena beberapa hal itulah, akhirnya berhasil membuat saya menepi dan mengunjunginya.

Minggu siang itu, saya berencana untuk pergi ke pantai bersama teman. Meskipun kami sudah sering ke pantai, tapi siang itu saya benar-benar membuat rencana dadakan dan pergi duluan sebelum teman-teman saya bersiap diri. Sesuai rencana, sebelum ke pantai, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi toko buku mungil yang sudah menarik perhatian saya sejak jauh-jauh hari ini.

Asli, begitu masuk, saya merasa girang bukan main karena merasa menemukan my next favourite place untuk cari buku asing. Di toko kecil ini, kita bisa menemui buku bekas mulai dari yang berbahasa Inggris sampai yang berbahasa Danish. Namun dari koleksinya lebih dominan buku berbahasa Inggris kemudian diikuti koleksi buku berbahasa Jerman dan Prancis. Pemilik tempat ini juga baik banget dan welcome saat melayani pengunjung which is a plus. A good greetings always feels good. :)




Pertama kali ke sana, saya membeli dua buah buku berjudul Blink: The Power of Thinking Without Thinking oleh Malcolm Gladwell (who doesn't know this book?) dan buku bacaan yang ringan sekali berjudul New York oleh Lily Brett.



Siang itu, saya happy banget. Meskipun awalnya masuk ke toko itu tanpa tujuan apapun, akhirnya saya membawa pulang dua buah buku yang membuat saya tidak sabar untuk segera membacanya. Sesuai rencana awal, saya membawa buku itu ke pantai untuk menemani siang saya sambil menikmati suasana tenang khas pantai Sanur.

Who knows that definition of 'happy' should be this simple? :)

Aug 25, 2017



Menurut saya buku ini adalah salah satu buku penuh 'perumpamaan' yang pernah saya baca, tapi juga penuh dengan nilai-nilai tersembunyi yang bisa membuka mata. Ya, buku anak-anak ini justru bisa menjadi salah satu buku pelajaran hidup bagi kita orang dewasa.



Bercerita tentang seorang pilot yang pesawatnya jatuh di  tengah gurun Sahara, tanpa kawan dan tanpa persediaan air yang cukup. Esok harinya ia terbangun oleh seorang anak lelaki kecil berambut emas yang meminta digambarkan seekor domba untuk dibawa ke planetnya.

Ia adalah Pangeran Kecil.

Pangeran Kecil tinggal di planet yang mungil. Ia memiliki setangkai bunga mawar yang meskipun cantik, tetapi naif dan cerewet. Pangeran Kecil sampai di satu titik dimana ia merasa lelah pada sikap bunganya, hingga -meskipun enggan- akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan planet dan juga bunga cantiknya.

Perjalanannya mulai dari satu planet ke planet yang lain. Mulai dari planet yang dihuni seorang raja, lalu ke planet orang sombong, planet seorang pebisnis, ke planet seorang pemabuk, kemudian ke planet kecil yang dihuni seorang penjaga lentera dan juga ke planet yang dihuni seorang ahli ilmu bumi. Dari perjalanannya, ia belajar banyak hal tentang karakter orang dewasa yang menurutnya aneh.

who knows that this deep meaning was told in a children's book?

Dalam perjalanannya, ia lalu sampai di planet bumi. Di planet bumi ia bertemu lebih banyak orang, dan lebih banyak pengalaman. Ia bertemu sekelompok bunga liar yang menyerupai bunganya, dan menyadari kalau bunganya bukanlah satu-satunya bunga tercantik seperti yang bunga itu katakan padanya. Ia juga bertemu dengan rubah, yang kemudian menjadi kawannya. Rubah itulah yang kemudian mengajarkan hal paling berharga baginya.

Pangeran kecil melanjutkan perjalannya. Selama perjalanan sejak ia meninggalkan planetnya, tak sekalipun ia melupakan bunganya. Ia khawatir terhadap bunga itu, bagaimanapun ia hanya setangkai bunga yang rapuh. Keempat durinya tak akan mampu melindunginya dari serangan binatang atau cuaca yang buruk. Meskipun bunga itu berbohong padanya kalau tak ada bunga lain seperti dirinya, Pangeran Kecil sadar kalau bunga itu tetaplah miliknya dan baginya bunganyalah yang tercantik dari bunga yang ada. Bunga itu berarti baginya dan ia bertanggung jawab atas bunga itu. Karenanya ia ingin segera kembali ke planetnya dan bertemu bunga miliknya.

"..karena dialah mawarku.."

Terakhir di beberapa waktu sebelum ia pulang itulah, ia bertemu dengan sang pilot di gurun Sahara. Dengan pilot itu, ia menjalin kedekatan. Pilot itu menyayanginya, dan bagi si pilot, Pangeran Kecil telah mengajarkan banyak hal lewat celotehannya, termasuk untuk percaya pada kemampuan menggambarnya yang sudah lama ia lupakan karena orang dewasa memaksanya untuk mempelajari hal lain yang lebih penting daripada menggambar.

Awal membaca, saya sempat kesulitan menangkap maksud dari buku ini. Barulah ketika saya menyelesaikan bukunya dan berusaha memahami perumpamaan dan nilai-nilai tersembunyinya, saya mengerti maksudnya. Beginilah nilai yang kira-kira dapat saya tangkap dari buku ini: 

1. Bunga adalah analogi dari seorang wanita, yang meskipun cerewet dan naif, wanita tetaplah wanita. Ia harus dicintai dan dilindungi, karena meskipun ia memiliki 'duri' untuk melindungi diri, ia masih tetap harus dilindungi karena ia rapuh. Karena bagi dunia ini, 'duri' itu tidak cukup untuk melindunginya dari marabahaya. 

2. Pangeran Kecil adalah analogi dari seorang pria yang bingung dan lelah pada wanitanya, yang kemudian pergi ke ujung dunia untuk bertemu pengalaman-pengalaman baru dan wanita-wanita lain di sepanjang perjalanannya. Dan meskipun diantara wanita yang ia temui lebih cantik dari wanitanya, wanita-wanita itu tidak memberikan arti di hidupnya seperti wanita yang ia cintai berikan. Karenanya, meskipun ia telah merantau jauh-jauh, ia selalu ingin kembali ke rumah tempat dimana wanita yang dicintainya berada.

3. Orang-orang yang ia temui di sepanjang perjalanannya: orang-orang di tiap planet, mengajarkan sifat-sifat orang dewasa yang aneh seperti raja yang gila hormat, orang sombong yang gila pujian, pebisnis yang gila harta, pemabuk yang terjebak dalam kesengsaraan yang ia buat sendiri, dan sebagainya.

Buku ini memiliki sisi yang menyentuh dan mengandung nilai yang dalam. Dari buku ini saya belajar tentang banyak hal dari sudut pandang seorang anak laki-laki kecil tentang cinta dan tanggung jawab, dan juga tentang sudut pandang orang dewasa yang tak bisa dipahami oleh seorang anak kecil.

Aug 18, 2017


Buku ini masih segar sekali di benak saya, karena baru beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan membacanya setelah sekian lama.

Sebetulnya buku ini sudah lama banget saya miliki. Saya belinya mungkin sekitar pertengahan tahun lalu tapi saya tidak pernah berhasil menyelesaikan buku ini. Paling-paling sejak beli, saya hanya bisa bertahan baca sampai bab 5, lalu saya melupakan buku ini begitu saja. Sudah sering kali buku ini tergeser dari daftar bacaan saya, bukan karena saya tidak suka tapi lebih karena waktu itu sepertinya saya tidak terlalu memahami alur ceritanya. Apalagi novel ini terjemahan, jadi seringkali sulit buat saya untuk memahami bahasa Indonesia dalam bentuk terjemahan, dan dengan bahasa baku pula. Ditambah nama-nama tokoh dan hubungan kekerabatan yang saling kait-mengait seringkali bikin saya bingung pada awalnya.

Lalu buku saya tutup begitu saja dan lanjut baca buku yang lain.

Sampai beberapa minggu yang lalu akhirnya saya kembali tertarik 'membongkar' buku ini. Sebelumnya saya sudah bertekad untuk menyelesaikannya kali ini. Karena khawatir akan bingung lagi, sesekali saya sempatkan menonton trailer film-nya yang diperankan oleh Keira Knightley dan Matthew Macfadyen untuk memberikan gambaran tokoh yang akan memerankan perannya di benak saya. Surprisingly this method works, kali ini saya berhasil membaca 'Pride & Prejudice' tanpa mengalami kesulitan! Baik Keira Knightley maupun Matthew Macfadyen berhasil nyantol di benak saya sebagai Lizzy dan Mr. Darcy.

And here I am today: I am in love with this story.. and the main male character Mr. Darcy!

Bagi yang belum baca, mungkin sinopsis ini bakal sedikit spoiler, ya. 

Buku ini menceritakan keluarga Bennet yang memiliki lima orang anak tanpa seorangpun anak laki-laki yang bisa menjadi pewaris kekayaan keluarganya yang tak seberapa. Bila kelima anak mereka menikah dengan pria yang salah, Mrs. Bennet terancam hidup sengsara bila suaminya meninggal nanti.

Pada suatu ketika datanglah serombongan bangsawan muda yang akan tinggal sementara di Netherfield Park dan dengan cepat berita itu menyebar ke Longbourn. Sebagai bentuk ramah tamah, diadakanlah pesta dansa di desa itu. Mrs. Bennet bersikeras memperkenalkan putri-putrinya pada bangsawan muda dan rupawan itu dengan mengajak seluruh putrinya ke pesta dansa. Pada saat itulah Mr. Bingley (pemimpin rombongan bangsawan) jatuh hati pada Jane Bennet, putri tertua keluarga Bennet yang terkenal cantik dan rendah hati.


Mr. Darcy, kawan Mr. Bingley, sepertinya menolak untuk beramah tamah dengan wanita manapun malam itu. Mr. Bingley memintanya untuk mendekati Lizzy (putri kedua keluarga Bennet yang terkenal cerdas dan menarik meski tidak secantik kakaknya, Jane) yang sepertinya tidak memiliki pasangan dansa ketika itu. Di depan mata kepalanya sendiri Lizzy mendengar kalau Mr. Darcy yang pendiam itu telah terang-terangan menolaknya dengan mengatakan kalau Lizzy tidak cukup menarik baginya. Sejak saat itulah Lizzy berkesimpulan bahwa Mr. Darcy tak lebih dari seorang pria angkuh dan sombong. Setelahnya juga, Lizzy mulai memberikan penolakan keras pada Mr. Darcy dan membencinya. Di tiap kesempatan, Lizzy akan berusaha mematahkan pernyataan-pernyataan Mr. Darcy, sebisa mungkin menunjukkan rasa tidak sukanya pada pria itu.

Sementara kakaknya tengah jatuh hati pada Mr. Bingley, Lizzy sepertinya kewalahan dengan tawaran menikah yang diajukan kerabat jauh keluarga mereka Mr. Collins, pria yang akan menerima seluruh kekayaan Mr. Bennet setelah ia meninggal nanti. Tak ada jalan lain untuk menyelamatkan kekayaan Mr. Bennet selain menikahkan salah seorang putrinya pada Mr. Collins. Karena Mr. Collins menaruh hati pada Lizzy, Mrs. Bennet menaruh harapan besar kalau putrinya itu mau menerima tawaran menikah Mr. Collins. Nyatanya, Lizzy menolak tawaran itu padahal Mrs. Bennet berharap Lizzy bisa menyelamatkan nasib keluarganya. Apalagi setelah Jane ditinggal pergi Mr. Bingley kembali ke London, tidak ada jalan lain bagi keluarga Bennet selain menerima uluran tangan Mr. Collins. Setelah penolakan itu, Mrs. Bennet semakin membenci Lizzy, semakin parah setelah Mr. Collins memutuskan menikah dengan sahabat Lizzy sendiri, Charlotte, dan itu artinya kekayaan keluarga mereka juga akan jatuh pada keluarga Charlotte Lucas.


Ditengah prahara keluarga itu, Jane dan Lizzy sering menginap di rumah kerabat mereka. Takdir sepertinya suka mempertemukan Lizzy dengan Mr. Darcy. Entah di jalanan kota, di Rosings Park, atau di Pemberley (tempat tinggal Mr. Darcy). Yang tidak Lizzy ketahui, ternyata Mr. Darcy telah jatuh hati padanya. Nada ketus Lizzy telah jelas-jelas memberikan kesan bahwa ia membenci pria itu, tapi justru penolakan-penolakan itu membuat Mr. Darcy berpikir ulang. Keceriaan pola pikir Lizzy juga telah membuat Mr. Darcy perlahan menganggap kalau Lizzy istimewa. Mr. Darcy awalnya mulai jatuh hati pada tatapan mata Lizzy yang menurutnya indah. Kemudian ia mulai menyadari kalau Lizzy berbeda dari wanita lain setelah ia melihat sendiri bagaimana Lizzy berusaha menerobos perjalanan jauh dan berlumpur ke Netherfield untuk bisa menemui Jane yang saat itu tengah di rawat di kediaman Bingley. Mr Darcy bahkan terpesona melihat wajah Lizzy yang merah padam karena perjalanan jauh dengan gaun kotor ketika gadis itu baru saja sampai di Netherfield.


Elizabeth sendiri baru mengetahui perasaan Darcy setelah pria itu mengungkapkannya sendiri di rumah Mr. Collins, dimana saat itu hanya ada mereka berdua di rumah itu. Sayang, Lizzy menolaknya karena saat itu Lizzy masih membenci sikap pria itu yang menurut kabar yang di dengarnya adalah pria arogan, sombong dan licik. Mr. Darcy menjelaskan semuanya dan perlahan Lizzy menyadari prasangka buruknya pada Mr. Darcy ternyata salah besar. Ia perlahan mulai menaruh hati juga pada Darcy namun sepertinya sulit baginya untuk mendapatkan tawaran pernikahan kedua dari seorang pria. Meskipun Mr. Darcy mulai menunjukkan sikap lembutnya pada Lizzy, tetap saja, Lizzy pernah melukai pria itu, jadi ia tidak berani berharap banyak tentang perasaan pria itu padanya meskipun kegalauannya itu telah menyiksanya sepanjang waktu.

Ceritanya khas kisah cinta antara si kaya dan si miskin dimana jurang pemisah terbesar diantara mereka adalah harga diri dan status sosial yang mereka sandang masing-masing. Diperparah keadaan bahwa hubungan mereka diwarnai prasangka-prasangka tak beralasan terhadap satu sama lain. Namun tak ada hal yang bisa melunakkan dua hati dan kepala yang sama kerasnya dan menyatukan semua perbedaan yang ada selain cinta!

Menurut saya, buku ini surprisingly related dengan kehidupan kita bahkan di saat ini, setelah beratus-ratus tahun berlalu dari setting waktu pada novelnya sendiri. Mungkin nilai-nilai dalam buku ini masih kita anut hingga saat ini, karenanya meskipun buku ini tergolong klasik, membacanya terasa seperti membaca novel roman pada umumnya dan menurut saya benar-benar mengagumkan. Saya bahkan merasakan deg-degan ketika membaca bagian saat Mr. Darcy 'nembak' Lizzy dengan gayanya yang galak tapi sesungguhnya dalam hati dia merasa malu dan takut di tolak.

Elizabeth and Mr. Darcy by Hugh Thomson 1894 (source: wikipedia)
Sekarang saya masih susah move on dan masih menganggap kalau Mr. Darcy itu kece abis dan husband material banget. Sifatnya yang to do point, anggun dan berkelas sesekali waktu terkesan kikuk dan malu-malu ketika ia jatuh hati. Itu karena Mr. Darcy bukanlah tipikal laki-laki yang mengumbar perasaannya, jadi dia menunggu waktu yang pas terlebih dahulu sebelum mengutarakan isi hatinya. Ia juga bersikap gentle karena tanpa sepengetahuan keluarga Bennet ia telah membantu keluarga Lizzy dari ambang reputasi buruk karena adik Lizzy, Lydia, memilih kawin lari dengan orang yang memiliki reputasi buruk. Semua untuk Lizzy! Siapa yang tidak melted?

Jane Austen sanggup merangkum semua nilai-nilai, norma-norma, gabungan rasa, dan menjalin cerita antara dua hati, antara pria dan wanita, melalui prasangka-prasangka tokohnya hingga ceritanya masih dapat dinikmati meski jaman sudah berganti. Buku ini originally terbit tahun 1813 dan ceritanya masih related sampai saat ini. Wajar kalau buku ini masih dicintai hingga saat ini dan mungkin akan terus dikagumi sepanjang masa!

Jul 22, 2017


Awal membeli buku ini karena tertarik pada judulnya dan dari sekelumit cerita yang menggantung di sampul belakangnya. Bercerita tentang seorang psikiater bernama Hector dan keingintahuannya untuk mencari kebahagiaan hingga ia nekat berkelana ke Negeri Cina, Afrika dan Amerika hanya untuk mempelajari arti kebahagiaan itu sendiri.


Sebagai seorang happiness seeker, saya langsung tertarik pada buku ini. Pertama, karena saya ingin tau arti kebahagiaan apa yang Hector pelajari selama pejalanannya di tiap negara yang ia jelajahi. Kedua, karena Hector seorang psikiater dan saya ingin tau lebih banyak tentang psikologi dan arti kebahagiaan dari sudut pandang seorang psikiater. Ketiga, karena saya ingin tau mengapa Hector sampai rela menjelajah ke banyak negara hanya untuk mengetahui hal sederhana tapi kompleks: kebahagiaan. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya pergi ke kasir dan membelinya.

Menurut saya buku ini enak dibaca, banyak cerita lucu yang menggelitik saya sesekali. Tapi sayangnya, saya tidak menemukan arti kebahagiaan menjadi sesuatu yang menonjol dalam cerita ini, padahal bukunya soal seorang pria yang mencari kebahagiaan.

Saya tau kalau laki-laki merupakan makhluk yang mudah dibuai oleh keindahan visual, tapi Hector sepertinya mudah sekali tertarik pada kecantikan wanita dan dalam cerita ia seringkali diam-diam memuji kecantikan wanita yang ditemuinya di setiap tempat. Hal ini membuat saya sedikit kesal pada Hector yang tampaknya mudah sekali 'keluar jalur' sehingga menimbukan kesan implisit kalau Hector bukan seorang happiness seeker, tapi lebih seperti seorang pleasure seeker.

Dari cuplikan di sampul belakang buku saya mengharapkan perjalanan Hector ke berbagai negara akan seperti cerita Lis dalam Eat, Pray, Love -spiritual, emosional- cerita tentang bagaimana ia menjadi orang asing yang harus survive dan menemukan kebahagiaan juga jati dirinya di negeri yang sama sekali asing baginya. Saya juga membayangkan Hector akan menceritakan bagaimana ia tersesat di gang-gang rumit di Cina, berlarian dengan anak-anak kecil di tanah Afrika atau membayangkan Hector duduk di kursi sebuah taman di Amerika lalu secara tidak sengaja menemukan arti kebahagiaan setelah mengamati pasangan tua yang duduk di seberangnya. Tidak, nyatanya Hector belajar tentang arti kebahagiaan dengan cara yang berbeda.


Tapi ada hal yang saya setujui dari Hector tentang konsep kebahagiaan yang ia sebut di awal: manusia sering merasa bahwa ia tidak cukup bahagia, seakan-akan ada sesuatu yang lebih pantas untuknya di luar sana dibandingkan yang ia miliki sekarang. Hal itu membuat manusia tidak lagi puas pada hidupnya dan membuatnya less-happy. Hector sendiri sepertinya demikian. Hector diceritakan memiliki hidup bahagia sebelum akhirnya tergelitik untuk merasa tidak bahagia hingga ia nekat pergi jauh hanya untuk menjadi bahagia, padahal sebelumnya ia sudah sangat bahagia! (No, that's not a riddle!) In this case, we just like him. Kita suka cari masalah sendiri dengan merasa tidak bahagia, padahal kalau kita mau membuka mata tidak ada alasan bagi kita untuk merasa tidak bahagia sekarang. 'Just don't think too much about something uncertain when you already have what you need', kira-kira begitulah kesimpulan yang dapat saya (secara pribadi) tarik setelah menyelesaikan buku ini.

Pada akhirnya, buku ini cukup menarik dibaca, karena meskipun tidak sesuai bayangan saya, nyatanya buku ini masih memuat beberapa sudut pandang yang menarik soal arti kebahagiaan yang mungkin belum pernah kita pikirkan sebelumnya.

Maybe we can learn something from Hector.

Jul 3, 2017

sumber gambar: wikipedia
Siapa yang tak tau buku fenomenal ini? Begitu banyak tokoh-tokoh yang menganggap buku fiksi ini begitu inspirasional. Sebut saja, Bill Clinton, Madonna, Will Smith, terakhir dalam acara Oprah, Pharrell Williams juga menyebutkan bahwa buku ini telah mengubah cara pandangnya dan juga mengubah hidupnya.

Bercerita tentang seorang bocah penggembala yang bernama Santiago, mengembara jauh dari yang pernah ia bayangkan setelah mengalami mimpi aneh sebanyak dua kali yang ceritanya sama persis. Mimpi itu juga yang kemudian mendorongnya untuk pergi mengembara jauh dari daerah asalnya di Andalusia sampai ke Piramida di Mesir untuk mencari harta karun yang tergambar dalam mimpi anehnya, lalu dalam perjalanannya ia juga belajar menemukan Legenda Pribadinya -panggilan jiwanya, tentang bahasa universal di dunia ini yang menuntunnya melalui pertanda dan firasat, serta menemukan cinta sejatinya di Oasis; seorang wanita muda bernama Fatima.

Buku ini mengajarkan banyak hal, bahkan hal-hal kecil yang kita tidak pahami atau tidak kita perhatikan sebelumnya namun ada di sekitar kita, dan ada di dalam diri kita sendiri. Salah satu kutipan favorit saya dan tampaknya juga merupakan kutipan yang disukai seluruh pembacanya adalah: "And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it."


sumber gambar: pinterest

Dunia akan membantumu ketika kamu yakin pada pilihan hatimu.

Kutipan itu menggugah hati saya dan hati banyak orang tentangnya. Ada satu bagian ketika kakek tua yang mengaku sebagai Raja Salem memberitahu Santiago tentang Legenda Pribadi. Tentang tukang roti yang dulunya memiliki keinginan untuk berkelana, namun memutuskan untuk membeli toko roti dan mengumpulkan uang dari berjualan roti dan hidup cukup tapi perlahan melupakan panggilan jiwanya untuk berkelana. Ia berakhir menua dan hanya ingin pergi ke Afrika  selama sebulan dan ia tidak lagi ingin berkelana. Atau tentang kisah penjual kristal yang sangat ingin ke Mekkah namun memilih terlebih dulu berdagang kristal untuk mengumpulkan uang untuk ke Mekkah, namun meskipun penjualan kristalnya baik dan ia kaya raya karenanya, ia tetap tidak pernah bisa pergi ke Mekkah karena ia tidak bisa meninggalkan kristal-kristalnya yang rentan rusak dan hilang. Contoh tadi terjadi pada kita juga di dunia nyata ini.

sumber gambar: pinterest

Coba pikirkan, kita memiliki legenda pribadi kita sendiri; sesuatu yang jiwa kita ketahui sejak awal, sesuatu yang membuat kita tidak takut punya mimpi, sesuatu yang menggerakkan kita tanpa rasa takut gagal, sesuatu yang membuat kita merasa antusias. Dalam perjalanan hidup kita seringkali diuji lalu akhirnya ragu terhadap legenda pribadi kita sendiri. Misal, seorang ingin menjadi penyanyi dan ia sadar kalau itu yang ia mau, namun ia memilih untuk bekerja kantoran terlebih dahulu. Ia menua dan menyerah bekerja sebagai pekerja kantoran dan hanya menjadi 'orang biasa' padahal kalau saja ia memilih memperjuangkan cita-citanya sebagai penyanyi, mungkin ia sudah menjadi orang terkenal saat ini.

Setelah kita dewasa, kita mulai meragukan harapan masa kecil kita lalu mulai memilih jalan yang memutar. Setelah tua kita sadar bahwa kita sudah menunda terlalu lama hingga semuanya menjadi terlanjur terlambat. Kita berakhir membiarkan diri kita menjadi orang biasa saja sementara kita bisa saja jadi luar biasa -dan juga bahagia.

Buku ini tampaknya akan selalu saya baca, akan selalu saya ingat kalimat-kalimatnya yang mengugah. Menurut saya buku ini adalah buah pemikiran yang hebat dan menginspirasi yang menyentuh lewat buaian kisah fiksi tentang seorang penggembala muda yang memiliki mimpi. Melalui Santiago, kita bisa berkaca tentang diri kita sendiri, membuat kita tertarik untuk kembali mencoba mengerti dan memahami apa sesungguhnya yang kita cari di dunia ini dan kembali memperjuangkannya.

sumber gambar: pinterest

Jun 16, 2016

Quite classic memang but I love it! Meskipun keluaran tahun 1970, menurut saya cerita dalam novel ini tidak lekang oleh waktu. Bercerita tentang gadis miskin, Jennifer Cavilleri, dan laki-laki kaya bernama Oliver Barrett IV yang jatuh cinta. Kisah dalam novel ini sangat romantis, lucu namun juga getir. Bagi yang ingin spoiler bisa baca plot lengkapnya di Wikipedia, tapi bagi yang ingin menikmati kisah lengkapnya silahkan baca bukunya :)




Saya pertama kali baca buku ini hasil pinjaman dari perpustakaan. Mungkin saya sudah membaca buku ini sebanyak tiga kali, tapi saya tetap suka. Saya suka jalan ceritanya dan saya suka bagaimana buku ini bisa bikin saya senyum-senyum sendiri, lalu mewek beberapa saat kemudian.

 Ini beberapa quotes populer dari buku ini:

- "Stupid and rich, clever and poor
What can you say about a twenty-five-year-old girl who died?
You can say that she was beautiful and intelligent. She loved Mozart and Bach and The Beatles. And me." -

- 'What makes you so clever?' I asked.
'I'm not going to go for coffee with you,' she said.
'Listen - I'm not going to ask you!'
'That,' she said, 'is what makes you stupid.' -

- 'You don't know about falling off cliffs, Prep­pie,' she said. 'You never fell off one in your god­damn life.'
'Yeah,' I said, re­cov­er­ing the power of speech. 'When I met you.' - 

- 'Love means never having to say you are sorry' -


Powered by Blogger.